Dosen Unej: Ada Tiga Isu Istimewa dalam Pemilu 2024

Jember (beritajatim. com) – Hermanto Rohman, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, mengatakan, ada tiga isu besar di dalam pemilihan umum pada 2024. Isu-isu ini selain dipengaruhi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, juga dipengaruhi pandemi.

Hermanto mengingatkan, bahwa generasi Z dan tingkatan milenial akan mewarnai proses politik pemilihan umum pada 2024. “Generasi Z ini pada rentang piawai 8-23 tahun dan generasi milenial sekarang berumur 24-39 tahun, ” katanya, dalam acara seminar ‘Meneguhkan kembali Khidmat PKB kepada NU’ yang digelar Dewan Pimpinan Cabang PKB, di Hotel Luminor, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (4/2/2021).

Dibanding 270 juta penduduk Indonesia, generasi Z ini mendominasi dengan 27, 94 persen dan populasi generasi milenial sebanyak 25, 87 obat jerih. “Kita bayangkan pada 2024, perut generasi ini akan mewarnai proses politik dan kenegaraan kita. Ini jadi tantangan bagi NU & PKB. Belum lagi kita tahu sebaran wilayahnya, ” kata Hermanto.

Rumor politik pun akan berbeda. Pandemi Covid-19 menjadi faktor pembeda istimewa antara pemilu 2019 dengan 2024. Selain itu, era digitalisasi atau revolusi industri 4. 0 pula akan mempengaruhi perilaku politik pemilih.

Dalam dunia pelajaran, pandemi membuat isu hari tersebut adalah soal pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan (daring). “Belum lagi masuk isu perdagangan. Hari ini banyak orang yang tak mengikuti digitalisasi, m omzetnya menurun. Belum lagi masuk urusan pertanian, ” kata Hermanto.

PKB dan NU harus mengantisipasi hal ini ke depan. “Mungkin saat ini PKB harus mulai berpikir modernisasi. Teman-teman NU dalam level anak muda sebenarnya sudah banyak yang canggih. Kalau sekarang Gus Halim (Menteri Desa Abdul Halim Iskandar) mengatakan, desa harus siap digitalisasi. Pemasaran produk harus siap. Sebetulnya kita punya simpanan kader yang memiliki kompetensi digitalisasi, ” kata Hermanto.

“Pertanyaannya: apakah kader-kader NU sanggup dioptimalkan, termasuk oleh PKB jadi satu kekuatan mengantisipasi pemilu 2024, ” kata Hermanto.

Tantangan berikutnya adalah isu intoleransi dan radikalisme. “Saya optimistis, indah PKB maupun NU, mampu memelihara itu. Dari semangatnya sudah terang. Artinya untuk persoalan ketiga aku tidak perlu khawatir, ” sebutan Hermanto.

Hermanto mengusulkan agar PKB mengacu pada peta demografi warga itu dalam menyusun kepengurusan, dengan memasukkan banyak bani muda. “Dalam struktur ranting maupun cabang, anak-anak muda diberi jalan menjadi bagian dari partai politik kalau ada yang potensial, ” katanya.

Hermanto mengucapkan, tantangan zaman akan lebih pelik. “Ketika platformnya agama dan baik kemasyarakatan, maka sosial kemasyarakatan menjadi penting dipotret dari multidisiplin pengetahuan. Maka yang harus dipikirkan, yang masuk PKB bukan hanya sarjana agama, tapi juga sarjana teknik, kedokteran, dan lain-lain. PKB ke depan seharusnya bukan hanya warna keagamaan, tapi warna sosial kemasyarakatan yang pastinya akan multi peraturan keilmuan, ” katanya. [wir/kun]