FRMJ, 15 Tahun Menemani Pawai ‘Wong Cilik’

Jombang (beritajatim. com) – Minggu (21/3/2021) malam adalah hari dengan istimewa bagi FRMJ (Forum Rembug Masyarakat Jombang). Sungguh tidak, usia LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) ini sempurna 15 tahun. Usia dengan matang bagi sebuah sistem.

Peringatan secara sederhana pun digelar di sekretariat FRMJ Jalan Kapten Piere Tendean, Pulo Lor, Jombang. Tentu saja, Pemimpin FRMJ Joko Fatah Rachim yang paling sibuk. Dia menyilakan sejumlah tamu yang hadir. Penampilan Fatah cukup menyita perhatian. Rambut panjangnya yang berkuncir dicat warna merah. Kemudian selembar kain mengikat kepalanya.

Penampilan tersebut semakin klop dengan paduan jeans dan kaus hitam lengan panjang bertuliskan FRMJ. Selain Fatah, anggota FRMJ lainnya juga mengenakan kaus serupa. Semua memiliki kesibukan masing-masing.

Tengah tamu yang hadir adalah orang-orang bawah. Yakni pakar becak, sopir truk, PKL (pedagang kaki lima), pengemudi kereta kelinci, serta pelaku kesenian kuda lumping. Perbedaan orang kecil itu pula semakin klop dengan hadirnya suguhan hiburan elektone.

Seiring hadirnya para tamu, seorang biduan membawakan lagu-lagu dangdut dengan perkataan merdu. Tak jarang, sebanyak anggota FRMJ mengikuti irama dangdut tersebut dengan bergoyang-goyang. Semuanya bergembira.

Puncak acara diisi dengan pemotongan tumpeng. Sebanyak 20 tumpeng berjajar di akan meja. Joko Fatah Rachim kemudian memotong gunungan terbengkalai di salah satu tumpeng tersebut. Seiring dengan tersebut, doa dipanjatkan dan diamini seluruh undangan, lalu ditutup dengan makan bersama.

“FRMJ ini awak dirikan pada 2006. Lalu pada 2010 secara formal kita daftarkan akte notaris. Alhamdulillah, hingga saat tersebut kami masih berdiri. Ana terus menemani wong mungil agar tidak dizalimi penguasa. FRMJ hadir untuk mengayomi wong cilik, ” ujar Fatah dalam sambutannya.

Selanjutnya masing-masing paguyuban yang hadir menyampaikan pengesahan. Di antaranya, PPLM (Paguyuban Pedagang Lesehan Mojoagung), Paguyuban Sopir Material (Pasoma), Paguyuban Langca Diesel (Pabedes), Paguyuban PKL Garuda V, Paguyuban Elf Jombang (Paejo), Paguyuban Kesenian Jaranan Jombang (PKJJ), mengikuti Paguyuban Sepur Kelinci Pembaruan Jombang (PSK Rejo).

Pengeratan tumpeng di ulang tahun ke-15 FRMJ, Minggu (21/3/2021) malam

Seluruh paguyuban tersebut dibentuk dan didampingi oleh FRMJ, ketika mendapatkan diskriminasi dibanding penguasa. Semisal pada 2015, dengan didampingi FRMJ, ratusan tukang becak berdemonstrasi ke kantor Pemkab dan DPRD Jombang. Mereka juga membawa kendaraan roda tiga maka memenuhi jalan.

Mereka menolak diberlakukannya Susunan Bupati (Perbup) Jombang No 7 Tahun 2014 mengenai Kawasan Tertib Lalu Lin. Dalam Perbup tersebut disebutkan, bahwa becak motor, kereta kelinci, mesin giling bermotor, sepeda cinta, dilarang mengambil kawasan tertib lalu lin, yakni, di Jalan Gus Dur, Jalan Wahid Hasim serta Jalan Ahmad Membandingkan atau lebih dikenal jadi Jalur T Kabupaten Jombang.

“Walhasil, sesudah kita melakukan demosntrasi kurang kali, kebijakan yang mudarat rakyat kecil tersebut tida jadi diberlakukan. Kita didampingi FRMJ saat menolak kebijakan itu. Melakukan hearing dengan DPRD dan Pemkab Jombang, ” kata Yulianto di dalam testimoninya.

Menurut Yulianto, awalnya dirinya gagap ketika ada kebijakan yang merugikan tukang becak pesawat tersebut. Dia sempat memperhadapkan ke seorang oknum diskusi, namun justru diminta tukar Rp 7, 5 juta. Akhirnya, para tukang lanca itu meminta FRMJ untuk melakukan advokasi.

“Lha, sebagai tukang trica, dapat uang Rp tujuh, 5 juta dari mana. Akhirnya kami minta tumpuan ke Cak Fatah FRMJ. Hingga kemudian terbentuklah Paguyuban Becak Diesel atau Pabedes. Alhamdulillah, kita berhasil menegasikan kebijakan tersebut, ” sebutan tukang becak yang umum mangkal di timur kampus Undar ini.

Hal sejenis juga disampaikan Ketua PPLM, H Yono. Awalnya, para pedagang lesehan di rekan Mojoagung diusir dari tempatnya berjualan. Mereka diminta untuk pindah ke pasar arah depan. Akibatnya, penghasilan penyalur terjun bebas karena tak ada pembeli.

“Kami kemudian meminta tumpuan ke Cak Fatah FRMJ. Walhasil, setelah melakukan sejumlah aksi, para pedagang dikembalikan lagi ke tempat awal. Malam ini saya mengucapkan apresiasi dan selamat kembali tahun untuk FRMJ, ” kata pria yang familier dipanggil Kaji Yono itu.

Joko Fatah mengucapkan terima kasih pada seluruh paguyuban yang siap. Di usia FRMJ yang ke-15 tersebut, Fatah menegaskan bahwa FRMJ tetap kewajiban menemani wong cilik. Sebab hal itulah kunci FRMJ bisa bertahan hingga piawai 15 tahun.

“Apalagi wong cilik itu kerap menjadi obyek kesewenang-wenangan penguasa. Semisal para padagang pasar yang sering menjadi sasaran pungli (pungutan liar). Juga masih adanya Sistem Daerah (Perda) yang penuh berpihak ke penguasa. Orang kecil selalu dirugikan. Sebab karena itu kami tetap komitmen mendampingi orang kecil, ” kata Fatah. [suf]