Hukum Front Persatuan Islam Sama dengan FPI

Hukum Front Persatuan Islam Sama dengan FPI

Jakarta – Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Front Persatuan Islam bakal persis dengan FPI yang sudah dibubarkan, 30 Desember lalu. Namun perkara logo dan kepengurusan masih dibentuk dan dibicarakan.

Kejadian itu dikatakan Kuasa Hukum Depan Pembela Islam (FPI) Aziz Yanuar. Hanya aja sejumlah anggota FPI memang sudah mendeklarasikan lahirnya organisasi tersebut.

Adapun, kata Aziz, sejauh tersebut mereka masih terus membahas & menyepakati sejumlah hal berkaitan secara organisasi.

“AD/ART (Front Persatuan Islam) sama dengan Front Pembela Islam kemungkinan, ” perkataan Aziz Yanuar seperti dikutip suarabogor. id jaringan beritajatim. com, Senin (4/1/2021)

Hal yang memantik rasa penasaran berikutnya tentu berkaitan dengan siapa saja tanda pengurusnya. Terkait hal ini, Termulia menyatakan belum diputuskan secara formal. Andaipun ada sejumlah nama terpaut kepengurusan yang beredar di jemaah, dipastikan bukanlah sebenarnya.

“Belum ada resmi. Kalau tersedia itu hoax, ” kata Terhormat lagi.

Lalu bagaimana dengan logo, visi-misi dan hal lainnya. Aziz kemudian buka suara kembali. Kata dia, belum bisa dijelaskan bagaimana struktur organisasi lantaran Front Persatuan Islam ini.

“(Belum diumumkannya) karena belum disepakati dan diputuskan, ” prawacana dia.

Sementara tersebut, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menyinggung lahirnya Front Persatuan Islam. Dirinya menyebut ada kondisi agar ormas ini bisa diterima masyarakat luas.

Syarat itu berkaitan dengan perangai sistem. Sebab jika tabiat dahulu tak diubah, akan sulit bagi ormas ini akan membesar seperti halnya FPI yang dahulu.

“Kita lihat saja, dan kami juga ingin mengunderline mereka harus menampilkan politik yang elegan, dengan santun, yang mematuhi hukum. Jangan melakukan kegiatan menggantikan fungsi petugas dan penegakan hukum, ” katanya disitat di saluran Youtube-nya, Minggu 3 Januari 2021.

Andaipun di kemudian hari jika masih ada hal yang demikian, kata dia, tak perlu ditiru. Dan pemimpin organisasi harus peringatkan hal penting itu kepada para-para anggotanya. Termasuk tidak lagi melayani persekusi, terutama kepada ulama yang berbeda pendapat.

Lebih jauh, Refly memandang sebenarnya FPI sudah berubah menjadi ormas besar sejak 2016 lalu. Itu ditandai dengan masuknya FPI dalam medan perpolitikan Jakarta. Kata Refly, FPI terlibat memperkarakan Basuki Tjahaja Purnama saat itu, karena dianggap lengah berpidato.

Sejak saat itu, FPI langsung mulai diperhitungkan, dianggap sebagai lupa satu mesin pendorong bagi suatu kelompok politik. Benar saja, Anies yang digadang berada di kedudukan ketiga ketika itu, di bawah Ahok dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) justru terus melesat terbang menjadi nomor 1 di DKI.

“Kelompok ini lalu dikhawatirkan terus membesar dalam politik Indonesia, terutama dalam politik 2024 mendatang, ” katanya.

Maka itu, kata Refly bila Front Persatuan Islam mau luhur seperti dahulu, dan bisa diterima, dia dianggap perlu memainkan peran elegan, baik dalam sikap dan segalanya.

“Lebih intelek, lebih soft dari sebelumnya, tak seperti FPI saat masih mungil, masih nakal. Sebab FPI saat ini sudah di level tingkat nasional, dan mampu kumpulkan tokoh keras, ” kata dia. (ted)