Menerima Lailatul Qadar

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apa malam kehormatan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bukan. Pada malam tersebut turun para malaikat serta malaikat Jibril dengan permisi Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. QS Al-Qadr: 1-5.

Berdasar firman pada atas, peristiwa Lailatul Qodar merupakan malam yang bernilai sangat istimewa dan bertambah baik daripada seribu kamar atau sekitar 83 tarikh. Sehingga sangat wajar jika umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) khususnya dalam menyambut peristiwa tersebut.

Hal tersebut memang betul wajar, terlebih jatah umur maupun kesempatan hidup di dunia belum tentu datang hingga mencapai usia 83 tahun. Sehingga peristiwa Lailatul Qadar dijadikan sebagai momentum tepat oleh seluruh umat Islam untuk melakukan bermacam-macam amal shalih.

Dalam beberapa hari kedepan, umat Islam akan mendatangi 10 hari terakhir Ramadan 1442 Hijriyah. Bahkan dalam rentang waktu tersebut, setiap muslim sangat dianjurkan supaya lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dan ditertemukan dengan suangi mulia.

Benar banyak tafsir yang menggambarkan turunnya malam kemuliaan sesuai yang tertuang dalam bagian di atas, meskipun demikian tak dijelaskan secara gamblang tentang kapan hingga bagaimana suasana dari malam penuh hidayah itu diturunkan.

Namun sebagian besar ulama berpendapat kalau malam kemuliaan tersebut diterunkan pada 10 hari belakang Ramadan, yakni pada bulan penuh berkah dan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla . Hanya saja tidak satupun para ulama yang sanggup memberikan gambaran secara terang tentang waktu turunnya kebaikan dari Sang Khalik.

Jauh sebelum mempercakapkan tentang Lailatul Qodar , perlu dipahami secara utuh tentang kehormatan Ramadan. Hal tersebut tidak lepas dari sejarah para sahabat yang sangat bergendang menyambut kedatangan bulan pertarakan, bahkan kegembiraan terpancar pada wajah dan ucapan mereka, salah satunya dengan sebutan Marhaban ya Ramadan.

Kegembiraan tersebut tampaknya disebabkan oleh pengetahuan itu bahwa Ramadan adalah kamar penuh berkah dan laba buat kehidupan manusia. Sehingga mereka juga merasa lara dan kehilangan ketika mengambil masa akhir Ramadan.

Hal tersebut senada dengan Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang mengklasifikasikan Ramadan menjadi tiga tahapan berbeda pada setiap 10 hari Ramadan. Dalam mana 10 hari perdana berisi rahmat, 10 hari berikutnya berisi ampunan nama lain maghfiroh dan 10 keadaan terakhir berisi nikmat.

Sedikitnya terdapat empat manfaat dengan bisa diperoleh umat Islam menggunakan Ramadan, yakni manfaat yang bersifat lahiriah berupa kesehatan tubuh dan ketajaman serta kejernihan berpikir, manfaat batiniyah dengan bersifat peneguhan keyakinan & pengendalian diri, manfaat baik yang berfungsi menbangun kembali sendi kehidupan sosial yang kolektif, serta manfaat spiritual yang berkaitan dengan koneksi kita kepada Sang Pencipta.

Hal itu hanya dapat dirasakan tepat oleh mereka yang beribadah selama Ramadan, tentunya ibadah dengan penuh ketekunan serta bersungguh-sungguh. Sebab melalui ‘kesungguhan’ dalam menjalankan puasa serta bukan sekedar ikut-ikutan belaka, sehingga kita terhindar daripada melaksanakan ibadah puasa dengan hanya mendapatkan lapar & haus belaka.

Terlepas dari itu, momentum Ramadan juga terdapat suatu peristiwa yang tidak tumbang penting, yakni diturunkannya al-Qur’an al-Karim atau wahyu pertama yang diterima oleh Si Revolusioner Dunia, Muhammad bin Abdullah pada 14 kurun silam.

Bersamaan dengan momentum tersebut, sudah semestinya sebagai muslim kita harus senantiasa memotivasi muncul untuk terus meningkatkan ghiroh beribadah di bulan lengkap berkah. Sekaligus berharap supaya ibadah yang dilakukan bersamaan dengan Lailatul Qadr. Wallahu A’lam . [pin/suf]