Nginap di Hotel 4 Bulan, Tiap Ditagih, Jaksa Tiruan Jawab: Bakal Dibayar Negara

Surabaya (beritajatim. com) – Abdussamad, terdakwa kasus penipuan dengan modus mengaku sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) diadili di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (17/5/2021).

Dalam persidangan kali itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Taufik menghadirkan kurang saksi guna menjelaskan modus terdakwa dalam melakukan lagak. Dipaparkan pula proses penangkapan petugas terhadap terdakwa.

Di persidangan terungkap bahwa pada melakukan aksinya, Terdakwa menyaru sebagai Kajari. Bahkan berkah kelihaian Terdakwa, hotel Harris tempat Terdakwa menginap semasa empat bulan juga kudu merelakan tagihan sebesar Rp 27 juta tidak terbayar.

“Terdakwa mengaku sebagai aparat negara, yaitu Kajari, tapi pembayaran hotelnya menunggak hingga 27 juta. Setiap ditagih katanya akan dibayar negara. Akhirnya kita curiga dan melaporkan ke Polsek Sukomanunggal, ” perkataan Yeni Krisnawati, yang merupakan Direktur Sales Marketing hotel Harris.

Yeni menjelaskan, Terdakwa menginap dalam hotel Harris selama 4 bulan sejak November 2020 hingga saat penangkapan Maret 2021. Pihak manajemen hotel sudah melakukan penagihan pada Terdakwa, namun setiap kali ditagih oleh pihak hotel terdakwa mengancam akan mengucup hotel yang berada pada jalan HR Muhamad itu.

“Tiap kali ditagih terdakwa selalu bilang, jangan sampai ia mengutarakan tongkatnya. Kalau tongkat itu sampai keluar, hotel itu bisa ditutup, ” sebutan Yeni menirukan ancaman tersangka Abdul Somad.

Selain Yeni, JPU selalu mendatangkan empat saksi lainnya. Mereka adalah Deni Kawasan Kusuma, Muhammad Dandi, korban penipuan yang dijanjikan bakal menjadi jaksa, Chandra Anggara selaku Kasubsie Intel Kejaksaaan Negeri Surabaya dan Kuat selaku driver terdakwa.

Di hadapan elok Hakim, Deni mengaku ingat dengan terdakwa Abdussamad dari Almarhum Ayahnya Joyo Santoso.

“Saya dikenalkan oleh almarhum ayah. Katanya terdakwa akan membantu hamba dalam tes Pegawai Daerah Sipil (PNS) di Kejari Surabaya. Tapi ternyata aku tetap tidak lulus tes. Padahal saya sudah bayar 250 juta kepada Abdussamad, ” ungkap saksi Deni Alam Kusuma.

Senada dengan Deni, saksi Dandi yang merupakan temanya, juga ditipu oleh Abdussamad dengan iming-iming lulus ulangan PNS di Kementrian Asas dan HAM.

“Waktu itu saya memang lagi tes PNS di Kemenkum Ham, terus dikenalkan oleh ayahnya mas Deni. Katanya terdakwa mau topang. Tapi oleh terdakwa kami diminta bayar 500 juta, ” beber Muhammad Dandi.

Namun had saat ini, Surat Keputusan (SK) yang dijanjikan tersangka kepada Deni dan Dandi tak kunjung datang. Makin tidak ada pengembalian uang terhadap keduanya.

Tatkala itu, Chandra Anggara Kasubsie Intel Kejari Surabaya, yang dihadirkan sebagai saksi penangkap mengungkapkan bagaimana proses interpretasi terhadap Abdussamad.

“Saat itu kami menyambut informasi, bahwa pihak Polsek Sukomanunggal mendapat laporan sejak manajemen Hotel Harris. Kalau ada tamu yang mengaku sebagai jaksa, yang menunggak pembayaran, ” terang Chandra.

“Setelah awak melakukan pengecekan di keterangan base, nama Abdussamad tak terdaftar sebagai jaksa di Kejaksaan manapun apalagi sebagai Kajari. Kamipun bergerak buat melakukan penangkapan. Namun zaman mendatangi hotel tersebut, tersangka sudah berpindah ke hotel lain, ” tambah Chandra.

Setelah mendapati posisi terdakwa, lanjut Chandra, pihaknya menangkap terdakwa dengan saat itu bersama istrinya. Turut diamankan pula surat anggota seragam jaksa, serta tongkat komando.

Selain itu, majelis ketua juga meminta keterangan bekas supir Abdussamad yang bertanda Bagas. Saksi Bagas menuturkan ia mengenal terdakwa masa dirinya masih bekerja sebagai Front Office di lengah satu hotel di Surabaya.

“Saya tahu terdakwa saat saya kegiatan di Hotel. Waktu tersebut terdakwa memanggil saya ke kamarnya, ia menawarkan saya kerja sebagai supir sekali lalu ajudannya, ”terang Bagas.

Karena Abdussamad mengiakan punya posisi yang luhur di Kejaksaan dan akan segera naik jabatan sedang, maka Bagas tertarik buat bekerja pada terdakwa.

“Beliau (terdakwa) mengaku sebagai Kepala kejaksaan Kampung, dan saya dijadikan supir sekaligus ajudannya. Jadi hamba tertarik, ” terang Gagah.

“Selama hamba jadi supirnya, saya cuma mengantarkan istrinya kerja. Tapi terdakwa hanya di hotel saja, tidak pernah ke kantor. Saya juga tak berani tanya, ” imbunya.

Setelah mendengar keterangan para saksi, terdakwa Abdul Somad yang mengikuti sidang dengan daring dari Polrestabes Surabaya membenarkan sebagian besar bukti mereka.

Hanya saja ia menyangkal keterangan dari Muhammad Dandi dengan menyebutkan, telah menyetorkan uang sebesar 500 juta buat bisa lolos tes PNS di Kemenkum HAM.

“Bukan lima ratus juta yang mulia. Beta hanya meminta empat dupa juta, ” sangkal Abdussamad.

Sebelumnya, dalan Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan pada Senin (10/5/21),. Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Furkon Adi Hermawan, Abdussomad didakwa dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan, junto Pasal 65 bagian (1) KUHP tentang kaum tindak pidana yang dikerjakan orang yang sama, pada waktu berbeda. [uci/but]