Pakai Kata-Kata Unik, Produsen ‘Kaus Kecakot’ Kediri Bertahan di Tengah Pandemi

Kediri (beritajatim. com) – Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan menggerus sektor perekonomian. Banyak pelaku cara gulung tikar karena tak mampu bertahan. Di Kediri, ada suatu produsen kaus yang dapat bertahan di tengah hantaman bencana non alam tersebut.

Yaitu produk kaus dengan nama brand ‘Kecakot’ di Jalan Panglima Polim Kelurahan Kemasan Kecamatan Kota Kediri Jawa Timur. Hadianto, selalu pemilik membagikan tips dan kiat-kiat memasarkan produknya di tengah pandemi.

Hadianto mengiakan, memanfaatkan media sosial sebagai jembatan strategi penjualan produknya Kaos Kecakot. Istilah atau singkatan Kecakot diambil dari ‘Kemasan Cah Kota’. & didirikan sejak tahun 2018, dengan identik kata-kata celoteh yang unik.

“Konsepnya tulisan ‘Jowo’ artinya tulisan Jawa yang bercanda. Banyak inspirasi yang sedang booming saya tangkap seperti kata-kata Rani Didi Kempot. Dan celotehan daripada masa pandemi Corona juga, ” ucapnya.

Awalnya, Hadianto yang hanya coba-coba membuat desain, saat di posting di Instagram, ternyata desain itu laku. Kemudian, berinisiatif untuk membuat desain kembali dengan menggunakan bahasa jawa, memang lekat di Kaos Kecakot.

Dengan adanya pandemi ini, justru omset desain kaos hak Hadianto ini, melonjak tinggi. Kala pandemi ini, banyak kata-kata yang dipakai untuk kaos Kecakot serupa antara New Normal karo New Sahno wong, Lamis, Mung Trimo Budal (MTB), Tukang maido, Losst doll, Senajan New Normal Koe ojo seneng new sahne kancamu.

“Alhamdulillah, pada periode pandemi ini, omsetnya tidak termakan. Justru, omset semakin meningkat saat pandemi ini. Meningkatnya penjualan kekacauan milik saya, karena memang kata-katanya yang unik dan banyak diminati masyarakat, ” jelasnya.

Pada Tahun 2020 lalu, dalam satu tahun omset yang didapat Hadianto mencapai 180 Juta. Pada sebulan, Hadianto dapat menghasilkan kaos hingga 400 pcs.

“Tahun 2020 kemarin, omset dengan saya terima mencapai 180 Juta. setiap bulannya, saya dapat mengecap 400 pcs kaos”, ujarnya.

Untuk pemasarannya, Kaos Kecakot diminati dari sungguh Negeri, seperti Hongkong dan Taiwan. Banyak para TKI yang mengambil Kaos Kecakot mikik Hadianto, karena kata-katanya yang unik dan banyak menggunakan bahasa jawa.

Menurutnya cara untuk bertahan, para pelaku UMKM harus inovatif, kaya, dan solutif dengan adanya transformasi pasar ditengah masa pandemi Covid-19. Termasuk dalam perubahan penjualan buatan pasar melalui konten media sosial.

“Kalau UMKM hari ini tidak dibantu pemasaran dibanding Medsos (media sosial), maka bakal selesai. Medsos punya power banyak sebagai jembatan, ” ujarnya. [nm/but]