Penyelidik Virus Universitas Hokaido Ingatkan Risiko Karantina di Stadion

Jember (beritajatim. com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, membangun karantina untuk menangani pandemi Covid-19 pada Stadion Jember Sport Garden. Karantina ini bisa menampung 500 karakter.

Jember tidak sendiri. Pemerintah Kabupaten Lamongan juga merencanakan tempat karantina di Stadion Surajaya.

Karantina terhadap pribadi dalam jumlah besar pada zaman Covid-19 ini pernah terjadi dalam kapal pesiar Diamond Princess. Sebagaimana diberitakan New York Times, tersedia kurang lebih 2. 700 orang dikarantina di kapal itu.

Christida Wastika, peneliti asal Indonesia di Division of Molecular Pathobiology, Research Center for Zoonosis Control, Hokkaido University, Jepang, mengingatkan, karantina orang dalam jumlah besar di stadion dalam menangani pandemi memiliki risiko besar. Ada sebesar persyaratan yang harus diperhatikan betul.

“Ketika melakukan karantina dalam jumlah besar seperti dalam kapal pesiar atau stadion menyepak bola, perlu diperhatikan apakah fasilitas-fasilitas umum tersebut memiliki kapasitas yang memadai untuk dilakukan karantina atau tidak, ” kata Christida via WhatsApp kepada beritajatim. com, Sabtu (11/4/2020).

Menurut perempuan berkacamata ini, karantina adalah sepadan upaya untuk mengamati apakah bahan yang dikarantina memiliki suatu aib atau membawa bibit penyakit terbatas atau tidak. “Jadi, tindakan karantina itu merupakan suatu tindakan pencegahan. Lamanya karantina juga beragam tergantung jenis patogennya, ” katanya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah karantina: kebersihan, sirkulasi udara, kepadatan per ruangan, kebutuhan dasar hidup, aparat kesehatan yang terlatih yang dilengkapi alat pengaman diri. “Bila diperlukan, bisa dibuat pembagian area sesuai area bersih, area terinfeksi, wilayah tindakan atau area-area lain yang diperlukan, ” kata Christida.

Namun ada satu peristiwa yang menjadi perhatian serius kala melakukan karantina dalam jumlah tinggi pada masa wabah Covid-19. “Kemungkinan penularan dari orang-orang yang terkena namun tidak menunjukkan gejala, ” kata perempuan kelahiran Jogjakarta ini.

“Kita tidak sudah tahu siapa yang sebenarnya telah terinfeksi namun tidak menunjukkan fakta, mana yang benar-benar sehat dan tidak terinfeksi, ” kata Christida.

Bencana karantina di dalam jumlah besar pernah terjadi dalam kapal pesiar Diamond Princess. Sama dengan dilaporkan New York Times, masa kapal membuang sauh di Yokohama, Jepang, protokol mengharuskan mereka dikarantina di daratan. Namun sebelum itu, mereka harus menjalani tes bertambah dulu dan pemerintah Jepang meminta para penumpang tetap tinggal pada kamar masing-masing sembari menanti hasil tes. Namun susah, karena para penumpang tetap bergerak, bertemu, & makanan prasmanan bersama.

Begitu hasil tes diketahui, pemerintah Jepang memerintahkan karantina kapal bulat. Penumpang yang terkonfirmasi positif corona dievakuasi ke rumah sakit, namun penumpang lainnya tetap tinggal dan diisolasi di kabin masing-masing.

Para penumpang yang dikarantina merasa tertekan. “Ini seperti dalam sel penjara, ” kata Bill Pearce, salah satu penumpang.

Namun karantina jauh dari harapan. Awak pesawat bekerja mengantarkan makanan dari kemungkinan ke pintu kamar dan bertatap muka dengan para penumpang secara sarung tangan yang tidak diganti. Alat perlindungan mereka juga tak memadai. Alhasil lebih dari 700 orang penumpang yang dikarantina dinyatakan positif terkena Covid-19 dan 20 orang meninggal.

Christida menegaskan, pembagian ruang atau klasifikasi wilayah bisa menjadi salah mulia kunci untuk membantu lancarnya jalan karantina. “Ini juga mengurangi resiko munculnya klaster atau kelompok penderita baru, ” katanya.

“Selain itu, pengaturan jadwal kesibukan harian juga perlu menjadi perhatian khusus. Apa aktivitasnya, siapa yang bisa bergabung dalam kegiatan tersebut, kelengkapan apa saja yang perlu digunakan ketika mengikuti perlu disampaikan secara lengkap dan detail, ” kata Christida. [wir/but]