Sempalan ‘Surga’ yang Jatuh di Lereng Wilis

Sempalan ‘Surga’ yang Jatuh di Lereng Wilis

Nganjuk (beritajatim. com) – Menara bambu setinggi 4 meter berdiri kokoh di sedang taman terbuka hijau yang luasnya sekitar 0, 5 hektar. Besar anak sedang berada di ujung menara itu. Mereka sedang menikmati keindahan lereng Gunung Wilis.

Dari menara berbahan buluh yang bentuknya mirip obor tersebut mereka bisa memandang kawasan persawahan, hutan, serta rumah-rumah penduduk. Bahkan, Kota Nganjuk bisa dilihat sejak bukit di lereng Gunung Wilis itu.

Sementara itu, di sisi yang lain, air pegunungan mengalir di susur taman hijau beraneka bunga tersebut. Dari aliran sungai itu pihak pengelola membikin kolam renang untuk anak-anak. Sedikitnya ada 10 anak yang sedang bermain air pada Selasa (5/1/2021).

Seluruh itu semakin klop dengan hadirnya sejumlah fasilitas mulai dari tempat duduk santai hingga gazebo bersirap jerami. Semilir angin di lereng Wilis menambah khas nuansa pegunungan. Itulah tempat wisata terbilang gres di Kabupaten Nganjuk. Namanya ‘Plaza Bukit Surga’. Lokasinya di Kampung Bareng, Kecamatan Sawahan, Nganjuk.

Sesuai dengan namanya, wadah wisata ini menyuguhkan keindahan panorama pegunungan. Taman hijau berisi berbagai macam bunga yang dipadu dengan gemericik air dari sungai-sungai kecil serupa disuguhkan di lokasi. Pepohonan rindang memayungi tepian taman.

Dari atas bukit itulah, pengunjung bisa memanjakan gegabah dengan melihat keindahan hijau alas dan pemukiman warga hingga kota Nganjuk. Tentu saja, rumah-rumah yang terlihat dari atas bukit sesuai serpihan kertas berderet-deret. Jika malam, lampu-lampu yang menyala di lembah terlihat seperti ribuan kunang-kunang.

Hari itu Kepala Tempat Bareng Narto Wibowo sedang giat di lokasi Bukti Surga. Tempat membenahi berbagai fasilitas permainan dengan ada di bukit tersebut. Roda angin digantung menggunakan kawat. “Ini untuk tambahan fasilitas di sini. Naik sepeda ‘onthel’ di hawa, ” kata Narto.

Narto mengatakan, Plaza Bukit Surga mulai dibangun pada Januari 2020. Kawasan wisata tersebut dikelola oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) Bareng). Sedangkan lahan seluas 5 hektar tersebut merupakan hasil kerjasama dengan Perhutani. Sistemnya bagi hasil.

Tamu sedang berpose di pintu masuh wisata Bukit Surga, Selasa (5/1/2021).

Menurut Kades yang sudah tiga tahun menjabat ini, penamaan Plaza Bukti Surga itu buka tanpa alasan. Itu karena keindahan panorama yang tersedia di lokasi wisata itu. “Dulu di sini ada pohon ploso. Lokasinya datar, sehingga menjadi tempat berkumpulnya orang. Makanya kita namakan Plaza Bukti Surga, ” kata pendahuluan Narto.

Bukti Surga dibuka secara resmi untuk wisatawan pada Agustus 2020. Walhasil, berbarengan bergulirnya waktu, jumlah pengunjung semakin banyak. Keindahan bukit yang berkecukupan di lereng Gunung Wilis ini menjadi magnet bagi wisatawan.

Mereka bukan hanya hadir dari Nganjuk, tapi juga muncul dari luar kota. Semisal, Kediri, Madiun, Jombang, bahkan Surabaya. Makin, untuk masuk ke lokasi harga tiket juga cukup terjangkau, yaitu Rp 5 ribu (sudah termasuk parkir).

“Pada Desember kemarin, penghasilan dari Bukti Surga mencapai Rp 13 juta. Tersebut penghasilan bersih untuk Bumdes. Artinya sudah dipotong bagi hasil secara Perhutani. Masyarakat di Desa Menyerempakkan juga lebih berdaya secara ekonomi dengan adanya wisata ini, ” kata Narto menjelaskan.

Bukit Surga dan Legitnya Durian Ketan

Kuliner khas Bukit Surga, nasi jagung dan durian ketan [Foto/Yusuf Wibisono]

Bukti Surga berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Nganjuk. Dari kota, pengunjung mengambul jalur menuju kawasan air terjun Sedudo. Namun ketika sampai di rekan Sawahan, mengambil jalur kiri mengikuti Desa Bareng.

Untuk menuju lokasi buka sesuatu yang gampang. Karena pengunjung langsung disambut jalanan mendaki dan berkelok khas pegunungan. Di sisi kanan dan kiri jalanan terlihat pohon cengkih, durian, dan pohon pinus, berdiri kokoh. Pepohonan itu seakan mengucapkan aman datang kepada setiap pengunjung yang melintas.

“Jalan menuju Bukit Surga sudah teraspal halus. Baru saja kemarin dilakukan pengaspalan oleh Pemkab Nganjuk. Kemarin Bungkus Novi (Bupati Nganjuk) juga ke Bukit Surga, ” kata salah satu staf Desa Bareng, Didik.

Didik menambahkan, bagi pengunjung dari jauh dan ingin menginap, pihak pengelola juga menyediakan home stay. Penginapan tersebut berada di pemukiman penduduk. Lagi-lagi, harga dengan dipatok juga tak menguras kantung, yakni Rp 150 per suangi.

Bak renang untuk anak di tempat Bukit Surga

Wisata yang berada di lereng Gunung Wilis ini tidak cuma menyuguhkan keindahan. Tapi juga memanjakan lidah pengunjung dengan aneka kuliner. Ada nasi jagung dengan lauk ikan asin, kopi khas pegunungan, serta makanan lainnya.

Nah, yang paling banyak dicari adalah durian ketan. Durian ini merupakan tanaman asli warga Bareng. Disebut durian ketan karena agaknya yang pulen seperti ketan. Telah begitu, daging durian juga nyata, serta rasa berpadu antara elok dan pahit.

“Rasanya durian sini sangat khas. Namanyan durian ketan. Karena tekstur dagingnya yang tebal dan pulen. Selain home stay, bagi pengunjung dengan ingin bermalam sambil kemping, kami juga menyiapkan tenda, ” cakap Didik. [suf]