Whisnu Sakti dan Machfud Arifin Menetapkan Belajar pada Khofifah

Dua figur hampir bisa dipastikan untuk bertarung dalam Pemilihan Pemangku Kota (Pilwali) Surabaya tahun 2020: Whisnu Sakti dan Machfud Arifin. Mungkin ada figur lain jadi poros ketiga, tetapi hingga zaman ini, tanda-tanda kemunculannya belum terlihat.

Whisnu Sakti Dunia lahir di Surabaya, 22 Oktober 1974, adalah Wakil Wali Kota Surabaya yang menjabat sejak 24 Januari 2014. Whisnu Sakti keluaran ITS Surabaya. Putra mantan pengantara ketua MPR RI yang selalu tokoh senior PDIP, Soetjipto Soedjono. Whisnu pernah menjabat sebagai Pemangku Ketua DPRD Kota Surabaya dan anggota DPRD Kota Surabaya daripada Fraksi PDI Perjuangan. Sabagai politisi muda, karier Whisnu Sakti bisa dibilang terus menanjak. Dia cukup dengan persaingan politik.

Di pihak lain, Irjen Penuh (Purnawirawan) Machfud Arifin adalah bekas Kapolda Jatim. Soal pengalaman mengarungi kerasnya pertarungan politik, itu tidak barang baru. Dalam ajang Penetapan Presiden 2018 lalu, Machfud Arifin adalah Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pendukung Jokowi-Ma’ruf di Jatim. Dia juga dikenal ahli lobi. Terbukti, sampai saat ini, Machfud Arifin mengaku berhasil mengantongi sokongan dari 8 partai untuk lulus dalam Pilwali Surabaya 2020.

Berkaca dari latar perempuan kedua tokoh, Whisnu Sakti serta Machfud Arifin sama-sama cenderung nasionalis. Keduanya bukan tokoh agama, tidak berasal dari kalangan pesantren, bukan akademisi kampus, bukan artis naik daun. Keduanya bukan tokoh milenial.

Aspek psikologis pemilik perkataan dalam setiap pesta demokrasi, cenderung memilih figur yang segolongan. Figur yang dinilai mewakili aspirasi kategori. Orang berlatar belakang nasionalis hendak memilih calon dari nasionalis, santri memilih santri, milenial memilih milenial, dan seterusnya. Jiwa korsa. Semacam tentara yang memiliki rasa solidaritas terhadap korps.

Situasi belakang kandidat Wali Kota Surabaya ini mirip dengan Calon Gubernur Jatim 2018 lalu: Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf. Ke-2 calon itu memiliki latar dapur yang sama, nahdliyin. Namun di dalam akhirnya, Khofifah tampil sebagai pemenang.

Beberapa pengamat memperhitungkan, kemenangan Khofifah berkat cermat dan tepat memilih pasangan. Yakni, Emil Elestianto Dardak.

Ketepatan Khofifah memilih pasangan terlihat semenjak awal. Ketika itu, dibentuk Tim 9 yang terdiri dari para-para kiai. Tim 9 bertugas memancing tokoh-tokoh yang tepat untuk mengiringi Khofifah maju dalam Pilgub Jatim 2019. Selain mencari yang mempunyai sifat amanah, tokoh diprioritaskan bersumber dari wilayah Mataraman.

Syarat Mataraman disorongkan karena aktivis tersebut diharapkan mampu menutupi cacat area jangkauan Khofifah. Merujuk hasil suara Pilgub Jatim 2013, perolehan suara Khofifah terpuruk di 18 wilayah Mataraman.

Kala itu, Khofifah kalah di Praja Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Malang, Kabupten Malang, Batu, Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Bojonegoro, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, & Kota Blitar. Khofifah hanya berkecukupan mendominasi perolehan suara di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Blitar.

Akhirnya pilihan jatuh ke Bupati Trenggalek Emil Dardak. Aktivis muda, enerjik, populer (apalagi punya istri artis ternama), pintar (lulusan luar negeri), dan merepresentasikan tamadun Mataraman.

Strategi Khofifah berhasil. Sepertinya pesona Emil berpunya mendongkrak suara Khofifah di daerah-daerah seperti Madiun Kota, Madiun Kabupaten, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Tulungagung, Kediri Kota dan Kabupaten, Blitar Kota dan Kabupaten, apalagi Malang Raya.

Jadi tokoh muda dan dekat secara dunia selebriti, Emil Dardak pula mendulang suara dari kalangan muda. Para pemilih pemula yang menggantikan ‘zaman now’ dan bersifat milenial.

Merujuk pada keberhasilan Khofifah, baik Whisnu Sakti maupun Machfud Arifin patut pula saksama dan tepat memilih pasangan. Figur pasangan yang mungkin masih lolos dari jangkauan keduanya. Figur populis yang memungkinkan mampu meraup suara besar dari kalangan milenial, atau pemilih pemula, atau remaja.

Tetapi milenial dan populis tentu bukan satu-satunyanya aspek dengan harus dilengkapi dari sosok Whisnu Sakti dan Machfud Arifin. Mencuaikan pertimbangan yang berbeda, keduanya bisa pula melengkapi diri dengan wujud lain. Semisal figur santri. Gaya merah – hijau, nasionalis – agamis. Harapannya, mereka mendapat pertolongan besar dari warga Surabaya yang berlatar belakang agamis.

Pilihan lain, Whisnu Sakti atau Machfud Arifin mengambil pasangan dari kalangan birokrasi. Figur yang ulung dan terbukti sukses berprestasi dalam pemerintahan. Figur ini mengingatkan awak Surabaya pada sosok Tri Rismaharini. Sebelum sukses menjadi Wali Tanah air Surabaya, Risma meniti karier jadi birokrat.

Lalu siapakah tokoh ideal buat menempati posisi Calon Wakil Pemangku Kota Surabaya?

Di media massa, banyak nama sudah diperbincangkan. Beberapa partai juga telah melakukan penjaringan. Bahkan beberapa tipu telah mendaftar langsung ke partai-partai besar. Baik Whisnu Sakti maupun Machfud Arifin tinggal memilih lupa satunya.

Namun bila dirasa belum cocok, figur dengan sebelumnya tidak diperhitungkan sedikit pun bisa pula tiba-tiba dipilih. Surabaya adalah kota besar. Figur-figur potensial jumlahnya tidak terhitung. Entah dari kalangan selebriti, kader partai, akademisi, fungsionaris, maupun pengusaha muda.

Justru tantangan di situ. Jumlah figur banyak tetapi hanya kepala yang bisa dipilih sebagai pendamping. Maka, seperti juga sukses Khofifah di Pilgub Jatim 2018, dibutuhkan kecermatan dan pertimbangan yang sampai. [ but]